Sabtu, 24 Maret 2012

OTAK

10 Kebiasaan Buruk yang Membuat Otak Mengecil

Otak merupakan organ terprnting dalam tubuh manusia sehinga harus di jaga dengan baik agar otak tidak menjadi rusak, mungkin kamu tidak akan sadar jika kebiasan buruk seperti tidak sarapan kurang tidur hingga jarang bicara dapat membahayakan otak kamu menjadi mengecil, otak mengecil disebapkan sebagian selnya akan mati atau mulai mengalami kerusakan. Nah kalu sudah banyak sel yang rusak sudah pasti akan mengangu kinerja otak pastinya akan berdampak buruk pada kesehtan kamu. Nah berikut ini ada 10 Kebiasaan Buruk yang Membuat Otak Mengecil sperti di kutip dari detik.com kamu mau tahu kebiasan buruk apa itu simak berikut ini.

1. Tidak sarapan
Sarapan di pagi hari penting untuk menjaga kadar gula darah, yang dibutuhkan agar otak bisa bekerja dengan baik. Kadar gula yang terlalu rendah bisa membuat otak kurang nutrisi lalu lama-kelamaan volumenya akan menyusut.

2. Galak
Emosi yang meledak-ledak karena terlalu mudah bereaksi bisa membuat pembuluh darah mengalami pengerasan. Jika pengerasan itu terjadi di pembuluh darah otak, maka kemampuannya akan menurun dan lama-kelamaan ukuran otak juga mengecil.

3. Merokok
Beberapa jenis penyakit degeneratif atau penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan bisa dipercepat oleh racun-racun di dalam asap rokok. Alzheimer atau salah satu jenis kepikunan merupakan satu di antaranya.

4. Terlalu banyak gula
Otak bisa menyusut karena kekurangan gula saat tidak sarapan. Sebaliknya, terlalu banyak gula di dalam darah juga mempengaruhi penyerapan protein sehingga pertumbuhan otak terhambat.

5. Polusi udara
Untuk bisa bekerja dengan optimal, otak butuh suplai oksigen yang cukup dari udara pernapasan. Polusi udara terutama gas karbon monoksida bisa membajak fungsi sel-sel darah merah dalam mendistribusikan oksigen, sehingga fungsi otak mengalami gangguan.

6. Kurang tidur
Otak juga butuh istirahat, karena itu kualitas tidur benar-benar sangat mempengaruhi fungsi otak. Kurang tidur bisa membuat sel-sel otak lebih cepat mengalami kerusakan.

7. Tidur dengan kepala ditutup bantal
Menutupi kepala dengan bantal saat tidur berarti menghalangi pertukaran udara, sehingga gas buang karbon dioksida terhirup kembali ke paru-paru. Ruangan untuk menampung oksigen akhirnya berkurang, sehingga tidak bisa didistribusikan dengan maksimal ke otak.

8. Berpikir keras saat sedang tidak sehat
Selain saat tidur, otak juga perlu diistirahatkan saat tubuh sedang sakit. Memaksakan diri untuk berpikir keras saat sakit akan membuat otak bekerja makin tidak efisien dan akhirnya cepat rusak.

9. Jarang bicara
Percakapan yang cerdas dan berbobot sangat membantu perkembangan otak. Jika jarang digunakan untuk berdiskusi dan saling bertukar pikiran, maka otak akan tumpul dan sel-sel di dalamnya tidak berkembang.

10. Kurang dirangsang
Seperti kata pepatah, otak ibarat pisau yang harus diasah terus menerus agar tidak tumpul. Membaca buku dan mempelajari hal baru merupakan beberapa contoh rangsangan untuk menjaga otak tetap tajam, sehingga lebih awet sampai lanjut usia.
Setelah membaca informasi ini alangkah baiknya kamu tidak melakukan kebiasan buruk di atas agar otak kamu tetap sehat.

(Sumber : PS)

INDERA PERASA (LIDAH)


Selama bertahun-tahun, diketahui lidah mampu merasakan empat rasa, yakni manis, asam, asin dan pahit. Kemudian muncul rasa kelima, gurih. Kini rasa keenam juga muncul. Apa itu?

Beberapa orang memiliki indera perasa keenam untuk lemak dan bagi mereka di mana indera ini kurang kuat, akan lebih bisa menerima rasa tersebut. Hingga kini, terdapat anggapan keinginan memakan makanan berlemak terkait sistem sensor di mana beberapa orang tertarik pada bau dan teksturnya.

Kini para ilmuwan yakin, sebuah varian genetik membuat beberapa orang lebih sensitif pada molekul lemak. Para ilmuwan di Washington University School of Medicine menemukan, orang obesitas yang menginginkan makanan berlemak terkait pada tingkat reseptor CD36.
Mereka yang memiliki tingkat CD36 tinggi, lebih baik dalam mendeteksi keberadaan makanan berlemak.

“Temuan ini bisa digunakan merawat orang obesitas agar sensitif pada lemak,” tutup profesor peneliti Nada Abumrad, seperti dikutip DM.

(Sumber : http://www.facebook.com/Pmi.Kota.Banjarmasin)

Kamis, 22 Maret 2012

KOMERSIL SAWIT INDONESIA

Sinar Mas: perang dagang gerus prospek sawit



Pontianak (ANTARA News) - Pemimpin Sinar Mas Grup Wilayah Kalimantan Barat Susanto menegaskan, adanya perang dagang secara perlahan menggerus prospek pengembangan kelapa sawit di Indonesia.

"Saat ini banyak isu-isu yang disebarkan sengaja untuk menekan pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, karena itu masyarakat kita jangan mudah terpancing isu-isu yang belum tentu kebenarannya," kata Susanto saat dihubungi dari Pontianak, Rabu.

Ia menjelaskan, ancaman perang dagang yan berawal dari isu tak benar tentang sawit itu sebenarnya pernah dialami komoditas lain, yakni gula. Dahulu Indonesia salah satu produsen gula terbesar di dunia, tetapi sekarang malah negara pengimpor gula akibat kalah perang dagang.

"Apakah hal itu mau terulang pada pengembangan kelapa sawit yang kini posisi Indonesia sebagai pengekspor `crude palm oil` (CPO, minyak kelapa sawit) terbesar di dunia, karena kalah perang dagang," kata CEO Perkebunan Kelapa Sawit Sinar Mas Wilayah Kalbar Susanto.

Data dari "Oilworld", Indonesia merupakan negara produsen minyak sawit terbesar sejak tahun 2006, dan mengalahkan Malaysia yang dulu menguasai industri sawit dunia. Tahun 2005 produksi minyak sawit Indonesia masih 14 juta ton/tahun, di bawah Malaysia yang saat itu 15 juta ton/tahun.

Di tahun 2006 produksi minyak sawit Indonesia meningkat menjadi 16,5 juta ton/tahun, sementara produksi minyak sawit Malaysia di bawahnya. Kemudian tahun 2008 produksi Malaysia sebesar 18,5 juta, Indonesia tembus 20 juta ton dan tahun 2009 produksi minyak sawit Indonesia meningkat lagi menjadi 21 juta ton, Malaysia malah menurun.

Menurut Susanto, ancaman perang dagang sudah dimulai. Ia mengutip hasil analisis konsultan sawit terkemuka dari Inggris James Fry, yang meramalkan 2030 daya saing minyak sawit jauh menurun dibandingkan minyak nabati lainnya akibat biaya produksi membengkak.

Menurut James, awal tahun 2000 biaya produksi minyak sawit paling rendah dibandingkan dengan biaya produksi minyak kedelai, "rapeseed" dan minyak bunga matahari yang diproduksi negara-negara di Eropa dan AS. Biaya produksi minyak sawit sekitar 220 dolar AS/ton, setengahnya dari biaya produksi minyak nabati lainnya sekitar 440 dolar AS/ton.

James memprediksikan keadaan lebih parah tahun 2030, karena biaya produksi minyak sawit Indonesia akan melonjak mendekati angka 350 dolar AS/ton, sedangkan biaya produksi minyak nabati lain terus menurun hingga di bawah biaya produksi minyak sawit Indonesia.

Peningkatan biaya produksi minyak sawit Indonesia, menurut James yang dikutip Susanto, disebabkan banyak faktor, di antaranya beragam isu negatif yang dihembuskan tentang sawit, mulai dari minyak sawit yang mengganggu kesehatan hingga isu lingkungan efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

"Tapi, sesungguhnya isu negatif itu hanyalah trik `perang dagang` dari negara produsen minyak nabati lainnya, yang sadar tidak mampu menyaingi Indonesia dalam produksi minyak kelapa sawit," katanya.

Karena itu, kata Susanto, analisis James hendaknya diantisipasi dan ditanggapi serius oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia, agar pengembangan minyak sawit tidak terhalang faktor isu negatif tersebut.

Susanto optimistis dengan masih luasnya sumber daya alam berupa lahan dan sumber daya manusia seperti di Provinsi Kalbar, produksi minyak sawit bisa terus ditingkatkan.

"Tetapi peluang itu akan hilang kalau masyarakat tidak sama persepsinya tentang sawit. Masyarakat perlu memberikan pandangan positif terhadap pengembangan kelapa sawit," katanya.

Ia menungkapkan, pengembangan perkebunan sawit telah ikut berperan dalam pengentasan warga dari kemiskinan dan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Karena dari setiap 100 hektare kebun kelapa sawit memerlukan sedikitnya 55 tenaga kerja sarjana, terdiri atas pekerja langsung 25 orang dan tidak langsung 30 orang.

Perkebunan kelapa sawit juga punya misi mengentaskan kemiskinan dengan menjadikan buruh tani sebagai pemilik dengan penghasilan Rp30 juta/hektare/tahun, atau meningkat jauh dibanding penghasilan petani padi ladang Rp10 juta/hektare/tahun, berdasarkan data BPS tahun 2009.

Sejak tahun 2010 Sinar Mas Grup, dalam pengembangan sawit agar berdampak positif ke masyarakat, menggandeng Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak dan perguruan tinggi lainnya di Indonesia sebagai tim independen untuk meneliti dan menilai terkait banyaknya isu-isu seputar pengembangan sawit di Kalbar.

Ia mengatakan, Sinar Mas dalam perkembangannya, selain membuka akses wilayah terpencil dengan membangun infrastruktur jalan, juga turut meningkatkan kualitas pendidikan putra daerah, dengan memberi beasiswa kepada 200 siswa yang baru lulus pendidikan SMA ke Institut Pertanian Bogor dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian sejak tahun 2009.

"Beasiswa ini terbuka untuk putra Kalbar setiap tahunnya," kata Susanto.
(U.A057/Z004)

Editor: Ruslan Burhani

Minggu, 11 Maret 2012

Nilai Ekonomis Kelapa Sawit
Tanaman kelapa sawit secara umum waktu tumbuh rata-rata 20 – 25 tahun. Pada tiga tahun pertama
disebut sebagai kelapa sawit muda, hal ini dikarenakan kelapa sawit tersebut belum menghasilkan buah.
Kelapa sawit mulai berbuah pada usia empat sampai enam tahun. Dan pada usia tujuh sampai sepuluh
tahun disebut sebagi periode matang (the mature periode), dimana pada periode tersebut mulai
menghasilkan tandan buah segar ( Fresh Fruit Bunch). Tanaman kelapa sawit pada usia sebelas sampai
dua puluh tahun mulai mengalami penurunan produksi tandan buah segar. Dan terkadang pada usia 20-
25 tahun tanaman kelapa sawit mati.
Semua komponen buah sawit dapat dimanfaatkan secara maksimal. Buah sawit memiliki daging dan biji
sawit (kernel), dimana daging sawit dapat diolah menjadi CPO (crude palm oil) sedangkan buah sawit
diolah menjadi PK (kernel palm). Ekstraksi CPO rata-rata 20 % sedangkan PK 2.5%. Sementara itu serta
dan cangkang biji sawit dapat dipergunakan sebagai bahan bakar ketel uap.
Komoditas kelapa sawit yang memiliki berbagai macam kegunaan baik untuk industri pangan maupun
non pangan/oleochemical serta produk samping/limbah yang dapat dimanfaatkan, antara lain:
1. Produk pangan
Berasal dari minyak sawit / CPO dan minyak inti sawit antara lain:
 Emulsifier
 Margarine
 minyak goring
 minyak makan merah
 shortening
 vanaspati
 confectioneries
 es krim
 yoghurt.
2. Produk non pangan/Oleochemicals
Berasal dari minyak sawit / CPO dan minyak inti sawit antara lain:
 senyawa ester
 liln
 kosmetik
 farmasi
 biodiesel
3. Produk samping / limbah antara lain:
 tandan kosong sawit untuk pulp dan kertas, kompos, karbon dan rayon
 cangkang untuk bahan bakar dan karbon
 serat untuk medium density atau fibre board dan bahan bakar
 pelepah dan batang sawit untuk furniture, pulp & kertas, pakan ternak
 bungkil intisawit untuk pakan ternak
 sludge untuk pakan ternak.

Warna Minyak Kelapa Sawit

Warna Dalam Minyak
Warna pada minyak kelapa sawit merupakan salah satu faktor yang mendapat perhatian khusus, karena minyak kelapa sawit mengandung warna-warna yang tidak disukai oleh konsumen. Menurut Ketaren. S, zat warna dalam minyak kelapa sawit terdiri dari dua golongan yaitu :
1. Zat warna alamiah.
2. Zat warna dari hasil degradasi zat warna almiah.

Zat Warna Alamiah.
Yang termasuk golongan zat warna alamiah, ini adalah zat warna yang terdapat secara alamiah didalam kelapa Sawit, dan ikut terekstraksi bersama minyak pada proses ekstraksi. Zat warna tersebut antara lain terdiri dari α-ka-roten, β-karoten, xanthopil, kloropil dan antosianin. Zat- zat warna tersebut menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning kecoklatan, kehijau-hijauan dan kemerah - merahan.
Pigmen berwarna kuning disebabkan oleh karoten yang larut didalam minyak. Karoten merupakan persenyawaan hidrokarbon tidak jenuh, dan jika minyak dihidrogenasi, maka karoten tersebut juga berikut terhidrogenasi sehingga intensitas warna kuning berkurang (6).
Karetonoid bersifat tidak stabil pada asam (5,9), dan suhu tinggi dan jika minyak dialiri uap panas, maka Warna kuning akan hilang, dan karetonoid juga bersifat asseptor proton (5).
Warna Akibat Oksidasi Dan Degradasi Komponen Kimia Yang Terdapat Pada Minyak.
1. Warna Gelap.
Warna gelap ini disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (vitamin E). Jika minyak bersumber dari tanaman hijau, maka zat kloroifil yang berwarna hijau turut terekstraksi bersama minyak, dan klorofil tersebut sulit dipisahkan dari minyak.
Warna gelap ini dapat terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan, yang disebabkan beberapa faktor yaitu :
1. Suhu pemanasan Yang terlalu tinggi pada waktu pengesan dengan cara hidrolik atau ekspeller, sehingga sebahagian minyak teroksidasi. Disamping itu minyak yang terdapat dalam suatu bahan dalam keadaan panas akan mengekstraksi zat warna yang terdapat dalam bahan tersebut..
2. Pengapresan bahan yang mengandung minyak dengan tenan dan suhu yang tinggi akan menghasilkan minyak dengan warna yang lebih gelap.
3. Ekstraksi minyak dengan menggunakan pelarut organik tertentu , misalnya campuran pelarut petroleum - ben, zen akan menghasilkan minyak dengan. warna lebih merah dibandingkan dengan minyak yang diekstraksi dengan pelarut triklor etilen , benzol dan heksan.
4. Logam seperti Fe , Cu dan Mn akan menimbulkan warna- yang tidak diingini dalam minyak.
5. Oksidasi terhadap fraksi tidak tersabunkan dalam minyak, terutama oksidasi tokoperol dan ,chroman 5,6 qoinon menghasilkan warna kecoklat - coklatan.

2. Warna Coklat
Pigmen coklat biasanya hanya terdapat pada minyak yang berasal dari bahan yang telah busuk atau memar. Hal ini dapat terjadi karena reaksi molekul karbohidrat dengan gugus pereduksi seperti aldehid serta gugus amin dari molekul protein dan yang disebabkan oleh karena aktivitas enzim-enzim seperti phenol oxidase, poliphenol oxidase dan sebagainya (6).
Zat Warna Alamiah.
Yang termasuk golongan zat warna alamiah, ini adalah zat warna yang terdapat secara alamiah didalam kelapa Sawit, dan ikut terekstraksi bersama minyak pada proses ekstraksi. Zat warna tersebut antara lain terdiri dari α-ka-roten, β-karoten, xanthopil, kloropil dan antosianin. Zat- zat warna tersebut menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning kecoklatan, kehijau-hijauan dan kemerah - merahan.
Pigmen berwarna kuning disebabkan oleh karoten yang larut didalam minyak. Karoten merupakan persenyawaan hidrokarbon tidak jenuh, dan jika minyak dihidrogenasi, maka karoten tersebut juga berikut terhidrogenasi sehingga intensitas warna kuning berkurang (6).
Karetonoid bersifat tidak stabil pada asam (5,9), dan suhu tinggi dan jika minyak dialiri uap panas, maka Warna kuning akan hilang, dan karetonoid juga bersifat asseptor proton (5).

Warna Akibat Oksidasi Dan Degradasi Komponen Kimia Yang Terdapat Pada Minyak.
1. Warna Gelap.
Warna gelap ini disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (vitamin E). Jika minyak bersumber dari tanaman hijau, maka zat kloroifil yang berwarna hijau turut terekstraksi bersama minyak, dan klorofil tersebut sulit dipisahkan dari minyak.
Warna gelap ini dapat terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan, yang disebabkan beberapa faktor yaitu :
1. Suhu pemanasan Yang terlalu tinggi pada waktu pengesan dengan cara hidrolik atau ekspeller, sehingga sebahagian minyak teroksidasi. Disamping itu minyak yang terdapat dalam suatu bahan dalam keadaan panas akan mengekstraksi zat warna yang terdapat dalam bahan tersebut..
2. Pengapresan bahan yang mengandung minyak dengan tenan dan suhu yang tinggi akan menghasilkan minyak dengan warna yang lebih gelap.
3. Ekstraksi minyak dengan menggunakan pelarut organik tertentu , misalnya campuran pelarut petroleum - ben, zen akan menghasilkan minyak dengan. warna lebih merah dibandingkan dengan minyak yang diekstraksi dengan pelarut triklor etilen , benzol dan heksan.
4. Logam seperti Fe , Cu dan Mn akan menimbulkan warna- yang tidak diingini dalam minyak.
5. Oksidasi terhadap fraksi tidak tersabunkan dalam minyak, terutama oksidasi tokoperol dan ,chroman 5,6 qoinon menghasilkan warna kecoklat - coklatan.

2. Warna Coklat
Pigmen coklat biasanya hanya terdapat pada minyak yang berasal dari bahan yang telah busuk atau memar. Hal ini dapat terjadi karena reaksi molekul karbohidrat dengan gugus pereduksi seperti aldehid serta gugus amin dari molekul protein dan yang disebabkan oleh karena aktivitas enzim-enzim seperti phenol oxidase, poliphenol oxidase dan sebagainya

Tabel 4 : Standart Mutu SPB Dan Ordinary. Kandungan
SPB
Ordinary
Asam lemak bebas (%)
Kadar air (5)
Pengotoran (%)
Besi (ppm)
Tembaga (ppm)
Bilangan iodium
Karotena (ppm)
Tokoperol (ppm)
Pemucatan : merah (R)
Kuning (y)
1 –2
< 0,1
< 0,02
< 10
0,5
53 + 1,5
+ 500
+ 800
< 2,0
20
3 – 5
< 0,1
< 0,01
< 10
0,2
45 - 56
500 - 700
400 - 600
< 3,5
35

Bleaching ( Pemucatan ) Atau Penghilangan Warna.
Tahap yang terpenting dalam pemurnian minyak nabati adalah penghilangan bahan-bahan berwarna yang tidak diingini, dan proses ini umumnya disebut dengan bleaching (pemucatan) atau penghilangan warna (decolorition). Pada proses netralisasi, beberapa bahan berwarna biasanya dapat dihilangkan, khususnya bila larutan alkali kuat digunakan, tetapi beberapa bahan alami yang terlarut dalam minyak (dimana sifatnya sangat karakteristik), biasanya tidak dapat terlihat sebagai bahan pengotor minyak, ini hanya dapat dihilangkan dengan perlakuan khusus.
Menurut Andersen(9) pemucatan minyak sawit dan lemak lainnya yang telah dikenal antara lain:
1. Pemucatan dengan adsorbsi; cara ini dilakukan dengan menggunakan bahan pemucat seperti tanah liat (clay) dan karbon aktif.
2. Pemucatan dengan oksidasi; oksidasi ini bertujuan untuk merombak zat warna yang ada pada minyak tanpa menghiraukan kualitas minyak yang dihasilkan, proses pemucatan ini banyak dikembangkan pada industri sabun.
3. Pemucatan dengan panas; pada suhu yang tinggi zat warna akan mengalami kerusakan, sehingga warna yang dihasilkan akan lebih pucat. Proses ini selalu disertai dengan kondisi hampa udara.
4. Pemucatan dengan hidrogenasi. Hidrogenasi bertujuan untuk menjenuhkan ikatan rangkap yang ada pada minyak tetapi ikatan rangkap yang ada pada rantai karbon kerotena akan terisi atom H. Karotena yang terhidrogenasi warnanya akan bertambah pucat.
Minyak sawit merupakan salah satu minyak yang sulit dipucatkan karena mengandung pigmen karotena yang tinggi sedangkan minyak biji-bijian lainnya agak mudah karena zat warna yang dikandungnya sedikit. Oleh sebab itu, minyak sawit dipucatkan dengan kombinasi antara adsorben dengan pemanasan, minyak yang dihasilkan dengan cara ini memenuhi sebagai lemak pangan.
Cara pemucatan minyak kelapa sawit yang umum dikembangkan ialah kombinasi pemucatan adsorben dengan pemucatan panas. Dasar pemilihan tentang cara pemucatan tergantung pada faktor warna, kehilangan minyak, kualitas minyak dan biaya pengolahan.
Penggunaan adsorben serta panas yang digunakan dalam proses pemucatan ini tidaklah selalu sama untuk semua pabrik pengolahan minyak kelapa sawit, tetapi tergantung pads kondisi minyak kelapa sawit, proses pabrik tertentu serta sifat adsorben yang digunakan, umumnya & penggunaan ada Sorben adalah ( 1-5 )% dari berat minyak dengan pemanasan 120 °c selama 1 jam.
Adsorben yang sering digunakan adalah tanah pemucat dan karbon aktif. Karbon aktif sangat baik digunakan sebagai adsorben pada larutan yang mengandung gugus karboksil, phenol, karbonil, normal lakton dan Asam karboksilat anhidrida, sehingga sesuai digunakan pada minyak yang banyak mengandung klorofil dan tokoferol. Percampuran Bleaching Earth dan karbon aktif dengan perbandingan 1: 25 ternyata menaikkan kemampuan daya pemucatan dibandingkan bila Bleaching Earth dan karbon aktif digunakan secara sendiri-sendiri (9 ).

Pemucatan Dengan Menggunakan ,Adsorbend.
Pemucatan dengan menggunakan tanah pemucat prinsipnya adalah pemucatan dengan adsorbsi.
Adsorbsi merupakan peristiwa penyerapan pada lapisan permukaan atau antar fasa, dimana molekul dari suatu materi terkumpul pada bahan pengadsorbsi atau adsorben. Ditinjau dari bahan yang teradsorbsi dan bahan pengadsorben adalah dua fasa yang berbeda, oleb sebab itu dalam peristiwa adsorbsi, meteri teradsorpsi akan terkumpul antar muka kedua fasa tersebut(12).
Peristiwa adsorbsi pada prinsipnya adalah netralisasi gaya tarik yang keluar dari suatu permukaan. Gaya tarik enter molekul pada permukaan dan dengan yang berada pada bahagian dalam suatu material adalah tidak sama. Molekul pada permukaan cenderung menarik molekul disekitarnya, maka molekul pada permukaan akan saling terikat lebih kuat satu sama lain, dan dapat menekan molekul dibawah permukaan, sehingga muncullah pengertian tegangan permukaan.
Pendapat tentang mekanisme adsorbsi zat warna pada proses pemucatan minyak kelapa sawit masih terdapat kesimpang siuran, sebagian pendapat bahwa gejala tersebut adalah peristiwa kimia dan yang lain menyatakan hal itu adalah peristiwa fisika, akan tetapi disimpulkan sebagai affinitas/permukaan terhadap substrat.
Pada adsorbsi fisika terjadi proses cepat dan setimbang (reveraibel) sedangkan adsorbsi kimia berlangsung lambal tetapi ireversibel. Perbedaan antara adsorbsi kimia dengan adsorbsi fisika kadang-kadang tidak jelas dan banyak prinsip-prinsip adsorbsi fisika berlaku juga pada adsorbsi kimia.
Gaya-gaya yang terlibat pada proses adsorbsi antara lain gaya tarik Van der Walls yang non polar, pembentukan ion hidrogen, gaya penukaran ion dan pembentukan ikatan kovalen.
Freundlich mengusulkan persamaan matematika yang meninjau hubungan antara zat yang diadsorbsi dengan konsentragi zat pengadsorbsi yang dinyatakan sebagai berikut:
1/n
X = k. Cf
M
dimana:
X = Co - Cf
Co = Konsentrasi awal
Cf = Konsentrasi setelah adsorbsi
M = berat adsorben.
k dan n = konstanta Freundlich.
Persamaan ini dapat juga ditulis sebagai berikut :
log ( Co - Cf ) - log M = log k + 1/n log cf
Persamaan ini merupakan persamaan linear, dengan memplotkan log x/M dan log Cf, dimana k adalah intersept, dan 1/n merupakan slope. Harga k merupakan indikasi untuk menyatakan kapasitas adsorbsi dari, tanah pemucat, sedangkan 1/n menunjukkan pengaruh kapasitas adsorbsi. 

http://library.usu.ac.id/download/fmipa/kimia-nurhaida.pdf

Sabtu, 21 Januari 2012

SAWIT

KELAPA SAWIT

Latar Belakang

Kelapa Sawit (Elaeis guinensis jacq) adalah salah satu jenis tanaman dari famili palma yang menghasilkan minyak nabati yang dapat dimakan (edible oil). Selain dari kelapa sawit, minyak nabati juga dapat diperoleh dari tanaman kelapa, kacang kedelai, bunga matahari, kacang tanah, dan lainnya. Dari sekian banyak tanaman yang menghasilkan minyak dan lemak, kelapa sawit adalah tanaman yang produktifitas menghasilkan minyak tertinggi, dimana tanaman kelapa hanya menghasilkan sepertiga (700-1000 kg daging buah kelapa/ha) dari produksi kelapa sawit (2000/3000 kg TBS/ha)
Buah kelapa sawit seberat 45 kg/tandan

Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetik, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keuunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi dalam bidang kosmetik

Kelapa sawit saat ini telah menjadi pionir dalam dunia pertanian di Indonesia, hal itu dikarenakan telah terjadinya peningkatan harga TBS yang luar biasa, yaitu mencapai Rp.1.550/kg TBS. Meskipun kenaikan harga TBS juga turut diikuti oleh kenaikan harga input produksi seperti pupuk, tenaga kerja, pestisida dan alsintan, tetapi secara total peningkatan harga TBS tetap memberikan tambahan pendapatan yang sangat menguntungkan para pekebun.

BIOLOGI TANAMAN KELAPA SAWIT

Tanaman penghasil minyak nabati terdapat 3 jenis, yaitu Elaeis guinensis jacq, Elaeis oleifera atau Elaeis melanocca dan Elaeis odora atau Barcella odora (Corley, 1976). Kelapa sawit yang banyak ditanam di Indonesia adalah berasal dari Afrika.

Beberapa varietas kelapa sawit adalah: Dura, Pisifera, Tenera, Macro carya, dan Dwikka wakka.

Penggolongan varietas berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah menurut Hutgers dan Yampolski:

1. Varietas Macrocarya = type Congo

tebal tempurung 4-8 mm
daging buah 30-50 %
tempurung/buah 20-40 %
inti 10 %


2. Varietas Dura = type Deli
tebal tempurung 2-5 mm
daging buah 50-70 %
tempurung/buah 20-40 %
inti 10 %

3. Varietas Tenera = type Lesobe

tebal tempurung 0,5-2,5 mm
daging buah 70-85 %
tempurung/buah 5-20 %
inti 8-10 %

4. Varietas Pisifera

tebal tempurung +- 0 mm
daging buah 85-100 %

tempurung/buah +- 0 %
inti 0-5 %

pohon kelapa sawit varietas pisifera


Penggolongan kelapa sawit berdasakan warna buah menurut Vanderwejn

1. Nigrescens

Buahnya berwana hitam pada saat masih muda dan berubah menjadi orange kehitam-hitaman pada saat buah matang.

Buah sawit Nigrescens

2. Virescens

Buahnya berwana hijau pada saat masih muda dan berubah menjadi orange pada saat buah matang.

Buah sawit Virescens

3. Albescens

Buahnya berwana keputih-putihan pada saat masih muda dan berubah menjadi kekuning-kuningan pada saat buah matang.


EKOLOGI KELAPA SAWIT

Tanaman kelapa sawit dapat hidup dengan baik pada daerah 15"LU-15"LS, yaitu dekat daerah edar garis katulistiwa. Ketinggian lahan yang ideal adalah pada ketinggian 0-500 m dpl. Curah hujan yang sesuai adalah 2.000-2.500 mm/tahun. Suhu optimum adalah 29-30"C. Intensitas penyinaran adalah 5-7 jam/hari. Kelembaban yang ideal adalah 80-90%. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada jenis tanah Podsolik, Latosil, Hidromorfik kelabu, Alluvial atau Regosol. Nilai pH optimum adalah 5-5,5. Perkebunan kelapa sawit baik dibangun pada tanah yang gembur, subur, datar (tidak lebih dari 15", berdrainase yang baik, dengan lapisan solum yang dalam.

Perbanyakan Tanaman

Tanaman kelapa sawit dapat diperbanyak dengan dua cara, yaitu generatif dan vegetatif buatan. Secara generatif, tanaman kelapa sawit diperbanyak dari biji yang terdapat dalam butiran buah sawit, dan secar generatif buatan kelapa sawit diperbanyak dengan cara kultur jaringan.

Produksi Benih

Benih kelapa sawit yang sering digunakan pada perkebunan kelapa sawit adalah hasil persilangan dari varietas Dura Deli (betina) dengan varietas Pisifera (jantan). Hasil persilangan dari varietas Dura dan Pisifera akan menghasilkan anakan yang bervarietas Tenera. Kelapa sawit varietas Tenera menjadi tujuan dari kegiatan persilangan karena kelebihan yang dimilikinya, yaitu: daging buah lebih tebal, ukuran buah lebih besar, kandungan minyak lebih tinggi, peluang kematangan buah yang sangat tinggi, dan berat buah cukup tinggi.

Untuk kegiatan pembibitan, penyerbukan biasanya dillakukan secara manual, yaitu dilakukan oleh manusia. Serbuk Sari dari bunga jantan (varietas Pisifera) diambil dengan cara memotongnya atau menepuk-nepukkannya pada kantong plastik agar tepung sari terkumpul dalam kantong plastik. Tepung sari (pollen) yang telah didapatkan kemudian dicampur dengan talk murni dengan perbandingan 1:1. Campuran tepung sari dan talk tersebut dimasukkan kedalam baby duster atau alat lainnya yang dapat menghembuskan tepung ke bunga betina. Setelah tepung sari ditaburkan/dihembuskan ke bunga betina (kepala putik) maka bunga betina tersebut ditutup dengan kantong kertas / plastik agar bunga betina tidak terkontaminasi dengan serbuk sari kelapa sawit tidak jelas asal usulnya yang sangat banyak beterbangan di udara. Setelah penyerbukan terjadi maka bunga betina akan matang setelah 6 bulan kemudian.

Perbanyakan kelapa sawit dengan cara penyilangan ternyata memiliki kelemahan yang sangat nyata, yaitu hasil persilangan tidak 100% menjadi bibit yang bervarietas tenera, umumnya tingkat keberhasilannya hanya dapat mencapai 75 %. Bayangkan saja jika ada 1 juta bibit yang di produksi, maka akan ada 250.000 bibit yang bervarietas Dura, Pisifera atau abnormal. Jika biaya tanaman dari benih sampai tanaman di tebang (25 tahun) (menurut perhitungan singkat penulis mencapai Rp.156.000 / tanaman/25 tahun), maka berapa opportunity cost yang terjadi?

Opportunity cost yang terjadi akibat terjadinya penyimpangan varietas yang dihasilkan ternyata belumlah seberapa jika tanaman dalam suatu kebun kelapa sawit bersifat super semua. Jika dilakukan pengamatan di lapangan, maka kita akan selalu mendapati adanya pohon yang bersifat super atau bersifat sangat buruk. Suatu pohon kelapa sawit yang bersifat super dapat memiliki berat tandan mencapai 30-45 Kg/tandan yang memenuhi setiap ketiak pelepahnya, meskipun umur tanaman masih 5-7 tahun. sedangkan untuk tanaman yang berumur lebih dari 10 tahun bobot tandannya dapat mencapai 40-60 Kg/tandan dengan buah yang menjejali setiap celah pelapah yang ada. Kondisi pohon yang demikian tidaklah akibat pemupukan, kondisi tanah dan perawatan yang habis-habisan, karena secara pengamatan visual pohon super tersebut berada di tengah pohon-pohon lainnya yang kondisinya biasa saja ataupun buruk.
Buah sawit 40 kg/tandan

Oleh karena ternyata ada pohon sawit yang bersifat super dalam hal bobot tandan, kuantitas tandan, rendemen minyak, ketahan terhadap hama dan penyakit, ukuran pelepah, kekerasan pelepah, pertambahan tinggi batang, toleransi terhadap jenis tanah, toleransi terhadap drainase yang sangat buruk, toleransi terhadap pH tanah yang tidak sesuai, maka tentu saja akan sangat diharapkan jika seluruh tanaman yang ada dalam suatu kebun adalah sama persis dengan pohon super tersebut. Saat ini mungkin ada cara yang memungkinkan hal tersebut dapat terjadi, yaitu dengan cara dilakukannya perbanyakan secara vegetatif.

Perbanyakan secara vegetatif yang telah berhasil pada tanaman kelapa sawit adalah dengan cara kultur jaringan. Sebagai sel induk dalam kultur jaringan dapat digunakan dari sel akar (metode Inggris) dan sel daun (metode Perancis). Metode kultur jaringan akan mampu menghasilkan bibit tanaman dengan sifat yang sama dengan induknya dengan jumlah yang sangat banyak, hanya saja kelemahannya adalah membutuhkan waktu yang cukup lama dalam hal replikasi sel dan pembesarannya.

Benih kelapa sawit tidak dapat diproduksi dan dipasarkan secara sembarangan, tetapi harus mendapat sertifikasi dari pemerintah untuk menjamin mutu bibit yang diproduksi dan keaslian varietas bibit. Saat ini pihak yang telah mendapat izin resmi dari pemerintah adalah Perkebunan Marihat dan Socfindo.


LAND CLEARING / PERSIAPAN LAHAN

Sebelum tanaman kelapa sawit ditanam, maka hal utama dan sangat menentukan kesuksesahan bisnis budidaya kelapa sawit adalah pada tahap land clearing. Suatu lahan kebun yang baik adalah jika memiliki saluran drainase yang berfungsi dengan baik, memiliki jalan yang kuat dan rata untuk kegiatan melangsir buah ataupun truk pengangkutan, bersih dari tunggul-tunggul kayu yang mengganggu dalam bekerja, bebas dari pohon-pohonan dan semak belukar, adanya akses jalan darat ke setiap tanaman, bebas dari batu-batu besar yang mengganggu posisi penanaman dan pekerjaan.

Pengerjaan land clearing dapat dilakukan secara mekanis dan manual. Secara mekanis land clearing dikerjakan dengan alat-alat berat seperti Back Hoe, Buldozer dan Grader. Secara manual land clearing dikerjakan oleh manusia dengan peralatan sederhana berupa parang, kampak, gergaji, machine saw, cangkul, tembilang, babat.

Jika ditinjau secara ekonomis, penggunaan cara mekanis ataupun manual harus memperhatikan pada beberapa faktor, yaitu:
1.Jauhnya jarak tempuh untuk mendatangkan alat-alat berat
2.Luasnya lahan
3.Tingkat kesulitan pekerjaan
4.Tingkat standar upah buruh lokal
5.Ketersediaan buruh
6.Biaya sewa/harga beli alat berat
7.Kebijakan dan peratruran pemerintah
8.Harga BBM dan oli mesin traktor
9.Tingkat upah operator traktor
10.Produktifitas kerja traktor
11.Produktifitas tenaga kerja manusia


COVER CROP / TANAMAN PENUTUP

Sebelum bibit kelapa sawit ditanam di lahan, satu hal yang sangat penting ada adalah tanaman penutup / cover srop, cover crop berfungsi untuk melindungi tanah dari kikisan air hujan, menjaga tumbuhnya gulma-gulma yang tidak diinginkan, menjaga ketersediaan unsur Nitrogen dalam tanah, mendinginkan tanah, sebagai tempat yang baik untuk berbiaknya mikroba-mikroba pengurai dan penyubur tanah


BUDIDAYA TANAMAN KELAPA SAWIT


A. PEMBIBITAN

Pembibitan sebaiknya dilaksanakn di dekat daerah penanaman, agar proses transport bibit ke lubang tanam dapat diminimalkan sehingga kerusakan bibit juga semakin sedikit. Bibit yang digunakan adalah berupa kecambah. Bibit kelapa sawit yang digunakan sebaiknya berasal dari produsen benih yang telah terpercaya kualitas tanamannya, contohnya bibit dari Marihat, Socfindo, Supergene (Malaysia), dan bibit dari Australia.

Lahan untuk lokasi pembibitan adalah 10% dari luas lahan yang akan ditanami oleh bibit tersebut. Lahan tersebut dipersiapkan bersamaan dengan proses land clearing keseluruhan.

Kecambah ditanam di polibag ukuran 1 liter, pada umur umur 3bulan dipindahkan ke polibag 3 liter, pada umur 6 bulan dipindahkan ke polibag 9 liter. Bibit dapat dipingahkan ke lapangan saat berumur 9-12 bulan.


B. PENGAJIRAN

Pengajiran dapat dilakukan dengan menggunakan tiang pancang sepanjang 1,5m yang ditancapkan di titik yang telah detentukan untuk ditanami kelapa sawit. Jarak tanam yang digunakan antara lain 8,5mx9m, 9mx9m, 10mx10m, ata 11mx11m. Sudut antara satu baris dengan baris lainnya adalah 60 derajat, agar dapat dicapai efisiensi lahan yang maksimal


C. TERASERING

Terasering adalah pembuatan dataran/teras untuk lahan yang bertopografi miring. Terasering dapat dilakukan dengan cangkul ata menggunakan traktor.


D. PENANAMAN COVER CROP

Penanaman cover crop sangat penting untk menekan pertumbuhan gulma dan dapat meningkatkan bahan organik serta gas nitrogen dalam tanah. Tanaman cover crop yang sering digunakan antara lain pueraria javanica, centrosema pubescens


E. PENANAMAN TANAMAN KELAPA SAWIT

Tanaman kelapa sawit dapat ditanam setelah dilakukan pembuatan lubang danam dengan ukuran 90x90x90cm.


F. PENANGANAN GULMA

Gulma dapat ditangani dengan melakukan pembabatan dengan babat tangan ataupun mesin babat, dengan menggunakan herbisida, atapun menggunakan predator alami seperti kambing, kerbau, sapi, dan rusa.
Jenis-jenis gulma antara lain sebagai berikut:Gulma pakis raja

Gulma rumput bendera


Gulma pohon


Gulma pohon di batang kelapa sawit


Gulma berbatang alot



PEMUPUKAN

Tanaman kelapa sawit seringkali merupakan tanaman yang sangat tergantung pada pemupukan untuk mencapai produksi yang tinggi, meskipun dapat ditemui kebun kelapa sawit yang dapat mencapai produksi rata-rata 3 ton/ha/bulan meskipun tanpa diberi pupuk sedikitpun. Secara logika, kebunkelapa sawit yang baik diharapkan dapat berproduksi TBS sebanyak 3-5 ton/bulan, dengan rendemen minyak mencapai 21%, maka produksi CPO adalah 6,3-10,5 ton/bulan, nilai kalori lemak adalah yang paling tinggi di antara zat gizi lainnya, yaitu 9,4 kalori/mg asam lemak, maka nilai energi yang dihasilkan dari satu hektar kebun sawit adalah luar biasa besarnya. Energi tersebut dapat digunakan sebagai zat gizi, bahan bakar, atau fungsi lainnya. Maka tidaklah wajar jika hasil produksi yang sedemikian besar tersebut hanya kita harapkan dari sang tanaman kelapa sawit dan tanah yang menyangganya tanpa ada sumbangsih dari kita yang menjadikannya sebagai "sapi perah".

Tujuan umum dari pemupukan adalah memberikan zat hara yang dibutuhkan tanaman dalam membangun jaringan akar, batang, daun dan buah.

Pada saat kelapa sawit berupa TBM (Tanaman Belum Menghasilkan), tujuan pemupukan ada untuk menjadi bahan baku dan penolong dalam pembangunan tubuh tanaman, sedangkan pada saat kelapa sawit berupa TM (Tanaman Menghasilkan), tujuan pemupukan adalah agar tanaman kelapa sawit memproduksi buah dengan optimal.

Berdasarkan banyaknya kuantitas yang dibutuhkan tanaman, pupuk dapat dibagi atas 2 golongan, yaitu: pupuk makro dan pupuk mikro.

Pupuk makro adalah pupuk yang mengandung unsur makro (unsur yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar). Unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar antara lain adalah :

Nitrogen (N), dapat diperoleh dari pupuk Urea (46% N), ZA ( %N)
Posphor (P), dapat diperoleh dari pupuk TSP (46% P), Rock Posphat ( % P)
Kalium (K), dapat diperoleh dari pupuk KCl (64% K)
Magnesium (Mg), dapat deperoleh dari pupuk Kieserit ( % Mg)


PANEN

Untuk dapat berbunga, kelapa sawit membutuhkan waktu 2-3 tahun dari saat bibit ditanam di lapangan. Masa produktif tanaman dapat berlangsung 40-50 tahun. Pembentukan buah memerlukan waktu sekitar 6 bulan setelah terjadinya penyerbukan (pollination). Pelaksanaan panen buah kelapa sawit tidak boleh dilakukan secara sembarangan, karena kegiatan panen tersebut menentukan pada produktifitas tanaman, rendemen minyak, mutu minyak, dan efisiensi biaya tenaga kerja. Pelaksanaan panen harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

1. Kriteria Matang Panen

Buah yang dapat dipanen haruslah buah yang daging buahnya telah berwarna kemerah-merahan/orange, dimana ada jenis buah yang meskipun kulit luarnya telah berwana kemerah-merahan tetapi ternyata daging buahnya belum matang (belum berwarna kemerah-merahan). Adapun kriteria umum yang digunakan dalam menentukan buah sawit yang layak panen adalah berdasakan pada jumlah berodolan yang telah jatuh di piringan. Kriteria jumlah berondolan dalam menentukan buah layak panen dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel Kriteria Kematangan Buah Berdasarkan Jumlah Berondolan






















No

Umur Tanaman (tahun)

Buah Memberondol (butir)

1

Tanaman muda (3,5-5 tahun)

2

2

Tanaman sedang (5-10 tahun)

5-10

3

Tanaman dewasa (>10 tahun)

15-20

2. Rotasi dan Sistem Panen

Yang dimaksud dengan rotasi panen adalah waktu yang diperlukan antara suatu panen dengan panen berikutnya pada suatu area panen. Rotasi panen yang baik adalah jika buah yang dipanen tidak kurang atau terlalu matang. Rotasi panen yang sering dilakukan adalah tiap 7, 10 atau 14 hari sekali.

3. Cara Pengambilan Buah

Cara pelaksanaan panen yang baik adalah salah satu syarat dalam menentukan produktifitas dan efisiensi dari suatu usaha kebun kelapa sawit. Ada suatu sistem dalam hal menjaga jumlah optimum daun pada pohon kelapa sawit, dan rumus dari jumlah daun optimum tersebut sering disebut dengan sistem "Songgo Dua", yaitu selalu ada dua unit pelepah daun yang menyangga buah sawit pada posisi yang paling bawah. Oleh karena itu maka dalam mengambil buah tidak boleh ikut memotong pelepah yang menyangganya, cara pengambilan buah tersebut sering disebut dengan cara "curi buah/culik buah".
Alat yang baik digunakan dalam memanen buah sawit adalah Dodos (untuk buah yang berada pada ketinggian <5>

HAL-HAL TERPENTING DALAM BERBISNIS KEBUN KELAPA SAWIT SKALA KECIL (4-40 Ha)

  1. Angkat penjaga kebun dengan memenuhi syarat mutlak, yaitu jujur, rajin, mau diatur, konsentrasinya tidak terpecah selain dari bekerja di kebun.
  2. Buat dan beri sistem penggajian yang menarik dan memotifasi untuk bekerja dengan tekun dan giat, misalnya adanya bonus atas tercapai/terlampauinya target produksi.
  3. Upayakan agar dapat memelihara kambing di kebun tersebut, karena dapat membantu mengendalikan rumput dan menjaga gairah hidup penjaga kebun, karena kambing dapat juga berfungsi sebagai teman jika bekerja dalam kesunyian kebun. Setiap hari raya penjaga kebun tersebut mendapat setengah bagian dari anak kambing yang lahir sebagai penarik agar tetap serius mengurus kambing tersebut.

DEFINISI

Dodos
: Dodos adalah alat memotong tandan buah kelapa sawit yang posisi buahnya kurang dari 5m
Egrek
: Egrek adalah alat pemotong tangkai tandan sawit yang posisi buahnya lebih tinggi dari 5m
Pasar Pikul
: Pasar pikul adalah jalan diantara pohon kelapa sawit dimana para pemanen melewatinya saat pane. Pada pasar pikul ini tidak ada penghalang apapun untuk dijalani, seperti pelepah sawit, batu, lubang, rumput yang tinggi, dan lain sebagainya.
Culik buah/Curi Buah
: Culik buah adalah kegiatan memanen buah sawit tanpa memotong pelepahnya, sehingga jumlah pelepah pohon sawit tidak berkurang dari jumlah yang optimal

TBS
: TBS adalah singkatan dari tandan buah segar, yaitu buah sawit yang telah matang dan telah dipotong dari pohonnya.
CPO
: CPO adalah singkatan dari Crde Palm Oil, yang berarti minyak sawit mentah. Yaitu hasil pemerasan dari TBS yang dilakukan di pabrik kelapa sawit. CPO ini belum diperuntukkan untuk dikonsumsi karena masih mengandung ampas dari buah sawit, air, tanah, pasir, dan lainnya sehingga masih perl melewati proses pemurnian.
PKO
: PKO adalah singkatan dari Palm Kernel Oil, yaitu minyak yang diperoleh dari pemerasan inti yang terdapat pada biji kelapa sawit. Inti kelapa sawit memilik bentuk dan rasa seperti daging buah kelapa, tetapi dengan tingkat kekerasan yang lebih tinggi.

PKS
: PKS adalah singkatan dari Pabrik Kelapa Sawit, dimana TBS diolah agar menjadi CPO.

Sabtu, 16 Juli 2011

Contoh RAPK


RANCANGAN ANGGARAN PELAKSANAAN KEGIATAN PALANG MERAH REMAJA INDONESIA WIRA SMAN 1 KAUR

Priode : Mei 2010 s/d Mei 2011




















No Bulan / Tahun Rancangan Kegiatan Tempat Jumlah Peserta  Estimasi Anggaran  Instruktur


1. Mei 2010 Minggu Pertama :        

Penyampaian materi (Pembalutan) SMAN 1 KAUR 50 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI dan Anggota

         

Minggu Kedua :        

Latihan gabungan bersama SMAN 2 KAUR dan SMAN 5 KAUR Pantai Sekunyit 90 orang  Rp                   50,000 Relawan PMI

       

         

minggu ketiga :        

Belajar untuk Mengajar (para anggota menyampaikan materi ke anggota lain maupun Pembina dan Pelatih) SMAN 1 KAUR 75 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI

       

       

         

Minggu Keempat :        

Penyampaian materi tentang HIV/AIDS SMAN 1 KAUR 60 orang  Rp                   50,000 BPMPKB KAUR

         

Sub total Anggaran I      Rp                  140,000  

         

2. Juni 2010 Minggu Pertama :        

Aksi Sosial (Membersihkan pemakaman Umum Sekunyit 80 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI dan Anggota PAMARASAKA

         

Minggu Kedua :        

Siraman Rohani (kaitan PMI dan Agama) SMAN 1 KAUR 60 orang  Rp                   20,000 Agus Supianto

         

Minggu Ketiga :         

Materi HIV/AIDS dan Narkoba SMAN 1 KAUR 80 orang  Rp                   50,000 BPMPKB KAUR dan PIK-R Sekapur Sirih

         

Minggu Keempat :        

Materi Lalu Lintas SMAN 1 KAUR 90 orang  Rp                   50,000 SATLANTAS POLRES KAUR

         

Sub total Anggaran II      Rp                  140,000  

         

         

3. Juli 2010 Minggu Pertama :        

Pengetahuan Umum (Budaya, Karkteristik Daerah, dan Ilmu Sosial lainnya) SMAN 1 KAUR 80 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI

         

Minggu Kedua :        

Mensosialisasikan PMR ke Tingkatan Madya SMPN 1 K/S 200 orang  Rp                   50,000 Relawan PMI dan Anggota PAMARASAKA

         

Minggu Ketiga :        

Mensosialisasikan PMR ke Tingkatan Madya SMPN 2 K/S 110 orang  Rp                   50,000 Relawan PMI dan Anggota PAMARASAKA

         

Minggu Keempat :        

Mensosialisasikan PMR ke Tingkatan Madya SMPN 1 TETAP 150 orang  Rp                   50,000 Relawan PMI dan Anggota PAMARASAKA

         

Sub total Anggaran III      Rp              170,000  

4. Agustus 2010          

Minggu Pertama :        

Tes Hemoglobin  SMAN 1KAUR 4OO orang  Rp                   20,000 Puskesmas Bintuhan

         

Minggu Kedua :        

Latihan Kepemimpinan SMAN 1 KAUR 80 orang   Rp                   20,000 Relawan PMI

         

Minggu Ketiga :        

Buka puasa bareng Masjid syuhada , Suka Bandung 50 orang  Rp                 150,000 Relawan PMI dan Anggota PAMARASAKA

         

Minggu Keempat :        

Penyampaian materi (Kegunaan Tumbuhan untuk obat dan makanan jika dalam keadaan darurat) SMAN 1 KAUR 75 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI

       

Sub total Anggaran IV      Rp                  210,000  

5. September 2010          

Minggu Pertama :        

Penggalangan Dana (Bulan Dana PMI) Desa Sekunyit 100 orang  Rp                   50,000 Relawan PMI dan Anggota PAMARASAKA

         

Minggu Kedua :        

Aksi Donor Darah (Bulan Donor Darah PMI) PMI  Cabang KAUR 120 orang  Rp                 100,000 Relawan PMI dan Anggota PAMARASAKA

         

         

Minggu Ketiga :        

Pelantikan Anggota Baru BBI Nasal 75 orang  Rp                 800,000 Relawan PMI dan Anggota PAMARASAKA

         

         

Minggu Keempat :        

Penyampaian Materi (Pembidaian) SMAN 1 KAUR 75 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI dan Anggota PAMARASAKA

         

Sub total Anggaran V      Rp                  970,000  

         

6. Oktober 2010 Minggu Pertama :        

Aksi Sosial (Membersihkan Masjid) Masjid At-Taqwa desa Sekunyit 50 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI dan Anggota PAMARASAKA

         

         

minggu Kedua :        

Penyampaian Materi (Pembuatan Tandu dan Evakuasi) Pantai Sekunyit 75 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI

         

         

Minggu Ketiga :        

Life Skill (Belajar Keterampilan Hidup) SMAN 1 KAUR 80 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI dan PIK-R

         

Minggu Keempat :        

Lomba Bersama SMAN 1 KAUR 75 orang  Rp              1,500,000 Relawan PMI

         

Sub total Anggaran VI      Rp               1,560,000  

         

7. November 2010 Minggu pertama :        

Memberikan bantuan PMI kepada Masyarakat Desa Sekunyit 80 orang   Rp                   20,000 Relawan PMI dan Anggota PAMARASAKA

         

Minggu kedua :        

Penyampaian materi (trease dan pembalutan) SMA N 1 KAUR  60 orang   Rp                   20,000 Relawan PMI

         

Minggu ketiga :        

Jalan-jalan /highking (penjelajahan alam)  Sungai Air BINTUHAN  80 orang   Rp                   50,000 Relawan PMI dan Anggota PAMARASAKA

         

Minggu keempat :        

Latihan gabungan (paska bencana) SMA 1 KAUR 90 ORANG   Rp                   20,000 Relawan PMI

         

Sub total Anggaran VII      Rp                  110,000  

         

8. Desember 2010 Minggu pertama        

Penyampaian materi Pertolongan Pertama SMA N I KAUR 50 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI

         

Minggu kedua :        

Study Banding  SMK N 2 Bengkulu 100 orang  Rp              1,500,000 Relawan PMI dan anggota PAMARASAKA

         

Minggu ketiga :        

Aksi Sosial (membersihkan Masjid) Masjid Al-Ikhsan 100 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI dan anggota PAMARASAKA

         

Minggu keempat :        

Penyampaian materi (Gudang dan Logistik) Pantai Sekunyit 80 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI

         

Sub total Anggaran VIII      Rp               1,560,000  

         

9. Januari 2011 Minggu pertama :        

Serasehan PMR Se-Kab. KAUR Kesiapsiagaan Bencana Lapangan Merdeka Bintuhan 400 orang  Rp                 800,000 Relawan PMI

         

Minggu kedua :        

Aksi sosial (Membersihkan lapangan merdeka BINTUHAN)  Lapangan Merdeka Bintuhan 100 ORANG  Rp                   30,000 Relawan PMI dan anggota PAMARASAKA

         

Minggu ketiga :        

Penyampaian materi (sejarah Palang Merah dan perhimpunan Bulan sabit Merah) SMA N 1 KAUR  90 ORANG  Rp                   20,000 Relawan PMI 

         

Minggu keempat :         

Latihan gabungan SMA 5 MAJE  100 ORANG  Rp                   20,000 Relawan PMI

         

Sub total Anggaran IX      Rp                  870,000  

         

10. Februari 2011 Minggu pertama :         

Pengetahuan umum Pantai Sekunyi 90 orang   Rp                   20,000 Relawan PMI

         

Minggu kedua ;         

latihan kepemimpinan SMA 1 KAUR  80 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI

         

Minggu ketiga :        

Penyampaian materi (pertolongan pertama) Pantai Muara sambat 100 orang  Rp                   20,000 Relawan PMI

         

Minggu keempat :        

Permainan (saling mengkritik teman) SMA N 1 KAUR  65 orang   Rp                   30,000 Relawan PMI dan anggota PAMARASAKA

         

Sub total Anggaran X      Rp                    90,000  

         

11. Maret 2011 Minggu pertama :        

PAMARASAKA CUP SMA N 1 KAUR 400 Orang   Rp              2,000,000 Relawan PMI dan anggota PAMARASAKA

         

Minggu kedua :         

Siraman Rohani Masjid Jamik 80 orang   Rp                   20,000 Relawan PMI dan anggota PAMARASAKA

         

Minggu ketiga :        

Aksi sosial (membersihkan markas PMI Cabang KAUR) Markas PMI Cab. KAUR 80 orang   Rp                   20,000 Relawan PMI dan anggota PAMARASAKA

         

Minggu keempat :        

Instrokfeksi diri pembina, pelatih, dan anggota SMA N 1 KAUR 90 orang   Rp                   20,000 Relawan PMI dan anggota PAMARASAKA

         

Sub total Anggaran XI      Rp               2,060,000  

         

12. April 2011 Minggu pertama :        

Mensosialisasikan PMR ke tingkatan Mula SD 1 K/S 80 orang   Rp                   40,000 Relawan PMI dan anggota PAMARASAKA

         

Minggu kedua :        

Mensosialisasikan PMR ke tingkatan Mula SD 2 K/S 80 orang   Rp                   40,000 Relawan PMI dan anggota PAMARASAKA

         

Minggu ketiga :        

Mensosialisasikan PMR ke tingkatan Madya SMP 2 NASAL 80 orang   Rp                   40,000 Relawan PMI dan anggota PAMARASAKA

         

Minggu keempat :        

Mensosialisasikan PMR ke tingkatan Madya SMP I TANJUNG IMAN 80 orang   Rp                   40,000 Relawan PMI dan anggota PAMARASAKA

         

Sub total Anggaran XII      Rp                  160,000  

         

             



















































































TOTAL ANGGARAN 

 Rp           8,040,000



Sub Total (I+II+III+IV+V+VI+VII+VIII+IX+X+XI+XII)

















 Ditetapkan di  : Bintuhan






 Tanggal   : 25 April 2010



















 Pembina PAMARASAKA 

Ketua PAMARASAKA



























 Aditia Ali Kurniawan 

Doniawan Saputra