Bijana
Bijana.....
Dulu kau indah permai
Dulu kau sangat ramai
Dulu kau tempat Ku di buai
Dulu kau sungguh damai
Bijana......
Adakah tersisa butiran itu?
Meski sekecil hamparan debu
Akan Ku kais lalu bersatu
Menjadi obat hati yang rindu
Oh,.....
Bijana,bijana,bijana.....
Kenapa lenyap tiada terkira
Hancur luluh tak tersisa
Apakah ini salah manusia?
Atau memang kehendak yang kuasa.
Oleh DoniawanS
Oleh DoniawanS
Bintuhan,08 Oktober 2010
Tatkala cahaya mulai padam
Hening bisu suara redam
Tak terpandang sepintas bayang
Hanya terhendus nafas menerjang
Sejak dalam gulita malam
Tanpa pelita pengusir kelam
Suatu melintas terang perbani
Nampaklah tubuh ceking ini
Lalu raib tak berbekas
Semua hampa sedih terasa
Hidup Sendiri tak merasa puas
Hanya mengadu pada yang kuasa.
Bintuhan, 06 Oktober 2010
Ni'kmat Ilahi
Apabila merah saga terbentang
Langit di hias pesona warna
Apabila mata mulai memaandabg
Lepas semua gundah gulana
Kokok ayam bak lonceng
Pengingat pagi sudah tiba
Keluar makhluk tempat berkurung
Sejak dalam gulita malam
Tanpa pelita pengusir kelam
Suatu melintas terang perbani
Nampaklah tubuh ceking ini
Lalu raib tak berbekas
Semua hampa sedih terasa
Hidup Sendiri tak merasa puas
Hanya mengadu pada yang kuasa.
Bintuhan, 06 Oktober 2010
Ni'kmat Ilahi
Apabila merah saga terbentang
Langit di hias pesona warna
Apabila mata mulai memaandabg
Lepas semua gundah gulana
Kokok ayam bak lonceng
Pengingat pagi sudah tiba
Keluar makhluk tempat berkurung
Pergi kelana di dunia fana
Rezeki di dapat tanpa terhitung
Ni'kmat ilahi tiada hentinya
Rasa syukur hendak di sanjung
Itu ucap terima kasihnya
Rezeki di dapat tanpa terhitung
Ni'kmat ilahi tiada hentinya
Rasa syukur hendak di sanjung
Itu ucap terima kasihnya
Antara Cipta dan Musnah di Lahap
Begitu besar kekuasaan-Mu
Begitu hebatnya diri-Mu
Tak ada yang menduakan-Mu
Takkan berani sepincang pun maju
Terkadang heran jika terpikirkan
Terkadang ragu dalam termangu
Terkadang menyangkal di dalam khayal
Terkadang yakin kalau itu memang mungkin
Air kau turunkan
Angin kau tiupkan
Api menyambar
Tanah terhampar
Adam di turunkan di dunia fana
Hawa tercipta dari tulang rusuknya
Kedua merana serta kelana
Harap petunjuk dari yang kuasa
Aku lapar aku haus
Aku lelah tak kunjung putus
Ya Rabb,,,apa yang Ku harap
Jika berdekap tak kunjung dekat
Kau tegakkan Aku di atas ‘Ardu
Kau payungi di atas langit yang tinggi
Kau beri mentari di siang hari
Kau beri bulan dan bintang di malam kelabu
Kau goncang dunia inihingga bergoyang
Kau keluarkan magma supaya menggema
Kau putar angin hingga berpusar
Kau tinggikan gelombang yang menerjang
Dalam sekejap dunia lenyap
Antara cipta dan musnah di lahap
Tanah Air
Lihat negeri ini
Negeri elok rupawan
Subur tanah bertani
Lebat tumbuh di hutan
Laut luas membiru
Membentang tiada batas
Ikannya t’rus di buru
Agar lapar terlepas
Lengkapi harta punya
Supaya jaya abadi
Lalu siapa tak ingin
Menguasai negeri ini
Lumpur intan di dulangi
Tanah batu berharga
Tuk hidup sang Kudungga
Kelak sampai saat nanti
Ganyang
Pekik itu selalu terngiang
Kala pagi menjelang siang
Hendus nafas makin kencang
Dia lari sambil menerjang
Tabur ranjau bukan halang
Hujan pelor tiba datang
Tak jadi, gantar goncang
Dia babat sekali serang
Lautan darah mulai menggenang
Mata merah karena mengenang
Semua pasrah sudah hilang
Hanya payah dan senang
Takdir
Jangan turunkan hujan terlampau lama
Sebab rumah Ku tak tahan di tempa
Atapnya dari daun rumbia
Tiangnya goyang dimakan rayap jelata
Aku tak mampu mengelakkannya
Jikalau hendak tuhan yang kuasa
Meratap nasib renungkan mimpi
Jikalau nanti hidupkan bahagia
Hangat terik terpa mentari
Laksana sengat lebah gurun
Merana Aku kehilangan peri
Sulap diku jadi penuntun
Lenyap sekejap timbul perlahan
Senang sesenyap sakit tak tertahan
Mungkinkah ini terus Ku landa
Hingga hayat tegang Kurasa
Bidadari
Saat ku lihat bola matamu
Terpancar seribu cahya
Bagai intan yang menerpa
Menembus sudut hati gelapKu
Kau tumbuhkan semangat Ku
Membuat diriKu terus membara
Seakan api melahap sampai abu
Tak ada pun yang tersisa
SenyumMu hanyutkan jiwa
Terombang-ambing dalam lara
Bak meneguk air syorga
Hilang lelah dan dahaga
suaraMu begitu anggun
menyapaKu dengan santun
seiring alunan lagu
membuat hati Ku terbelenggu.
Untuk Mu Ibu
Andai terkenang sedih Ku ingat
Cerita lama di masa dini
Siang dan malam kau tak istirahat
Sibuk mengurusKu tiada henti
Kau bagaikan sang surya
Hanya memberi takharap kembali
Aku bagaikan sang dunia
Yang hanya bisa di sinari
Rasa sayangMu begitu besar
Sangat luas laksana lautan di luar
Aku sungguhlah tak berdaya
Bagai di ikat rantai baja
Aku di sekolahkan hingga berguna
Demi membangun dan memajukan bangsa
Takkan Ku biar seorang dapat mengganggu
Takkan Ku biar seorang menyerbu tanah airKu
Se-Ku-Le-Ri
Seumur jagung hubungan kita
Selama itu juga Ku meminta
Meminta tanya yang menyiksa
Menyiksa selalu hingga tak kuasa
Ku pahami apa yang kau rasa
Tapi kau malah ingin memaksa
Ku tahu kau masih mencintainya
Tatapanmu menginginkan dirinya
Lepaskan aku jika kau suka
Suka padanya sampai puas
Puas membuatKu berduka
Sobekkan hati dengan buas
Dari pada aku mendua
Lebih baik kita bersua
Lalu hapus kenangan semua
Demi tenang di hari tua