Sabtu, 05 Februari 2011

Puisi

                                                                        Bijana
   
Bijana.....
Dulu kau indah permai
Dulu kau sangat ramai
Dulu kau tempat Ku di buai
Dulu kau sungguh damai

        Bijana......
        Adakah tersisa butiran itu?
        Meski sekecil hamparan debu
        Akan Ku kais lalu bersatu
        Menjadi obat hati yang rindu

Oh,.....
Bijana,bijana,bijana.....
Kenapa lenyap tiada terkira
Hancur luluh tak tersisa
Apakah ini salah manusia?
Atau memang kehendak yang kuasa.
                                                                                                                                    Oleh DoniawanS

Bintuhan,08 Oktober 2010





Tatkala cahaya mulai padam
Hening bisu suara redam
Tak terpandang sepintas bayang
Hanya terhendus nafas menerjang
                     Sejak dalam gulita malam
                     Tanpa pelita pengusir kelam
                     Suatu melintas terang perbani
                     Nampaklah tubuh ceking ini
Lalu raib tak berbekas
Semua hampa sedih terasa
Hidup Sendiri tak merasa puas
Hanya mengadu pada yang kuasa.

                                                                                                                 Bintuhan, 06 Oktober 2010




Ni'kmat Ilahi
Apabila merah saga terbentang
Langit di hias pesona warna
Apabila mata mulai memaandabg
Lepas semua gundah gulana
Kokok ayam bak lonceng
Pengingat pagi sudah tiba
Keluar makhluk tempat berkurung
Pergi kelana di dunia fana
Rezeki di dapat tanpa terhitung
Ni'kmat ilahi tiada hentinya
Rasa syukur hendak di sanjung
Itu ucap terima kasihnya

Antara Cipta dan Musnah di Lahap

Begitu besar kekuasaan-Mu
Begitu hebatnya diri-Mu
Tak ada yang menduakan-Mu
Takkan berani sepincang pun maju

Terkadang heran jika terpikirkan
Terkadang ragu dalam termangu
Terkadang menyangkal di dalam khayal
Terkadang yakin kalau itu memang mungkin

Air kau turunkan
Angin kau tiupkan
Api menyambar
Tanah terhampar
               
Adam di turunkan di dunia fana
Hawa tercipta dari tulang rusuknya
Kedua merana serta kelana
Harap petunjuk dari yang kuasa

Aku lapar aku haus
Aku lelah tak kunjung putus
Ya Rabb,,,apa yang Ku harap
Jika berdekap tak kunjung dekat

Kau tegakkan Aku di atas ‘Ardu
Kau payungi di atas langit yang tinggi
Kau beri mentari di siang hari
Kau beri bulan dan bintang di malam kelabu

Kau goncang dunia inihingga bergoyang
Kau keluarkan magma supaya menggema
Kau putar angin hingga berpusar
Kau tinggikan gelombang yang menerjang

Dalam sekejap dunia lenyap
Antara cipta dan musnah di lahap














                                             Tanah Air

Lihat negeri ini
Negeri elok rupawan
Subur tanah bertani
Lebat tumbuh di hutan

Laut luas membiru
Membentang tiada batas
Ikannya t’rus di buru
Agar lapar terlepas

Lengkapi harta punya
Supaya jaya abadi
Lalu siapa tak ingin
Menguasai negeri ini

Lumpur intan di dulangi
Tanah batu berharga
Tuk hidup sang Kudungga
Kelak sampai saat nanti



                                      Ganyang

Pekik itu selalu terngiang
Kala pagi menjelang siang
Hendus nafas makin kencang
Dia lari sambil menerjang

Tabur ranjau bukan halang
Hujan pelor tiba datang
Tak jadi, gantar goncang
Dia babat sekali serang

Lautan darah mulai menggenang
Mata merah karena mengenang
Semua pasrah sudah hilang
Hanya payah dan senang






                                                            Takdir

Jangan turunkan hujan terlampau lama
Sebab rumah Ku tak tahan di tempa
Atapnya dari daun rumbia
Tiangnya goyang dimakan rayap jelata

Aku tak mampu mengelakkannya
Jikalau hendak tuhan yang kuasa
Meratap nasib renungkan mimpi
Jikalau nanti hidupkan bahagia

Hangat terik terpa mentari
Laksana sengat lebah gurun
Merana Aku kehilangan peri
Sulap diku jadi penuntun

Lenyap sekejap timbul perlahan
Senang sesenyap sakit tak tertahan
Mungkinkah ini terus Ku landa
Hingga hayat tegang Kurasa



                                                    Bidadari

Saat ku lihat bola matamu
Terpancar seribu cahya
Bagai intan yang menerpa
Menembus sudut hati gelapKu

Kau tumbuhkan semangat Ku
Membuat diriKu terus membara
Seakan api melahap sampai abu
Tak ada pun yang tersisa

SenyumMu hanyutkan jiwa
Terombang-ambing dalam lara
Bak meneguk air syorga
Hilang lelah dan dahaga

suaraMu begitu anggun
menyapaKu dengan santun
seiring alunan lagu
membuat hati Ku terbelenggu.






                                                         Untuk Mu Ibu

Andai terkenang sedih Ku ingat
Cerita lama di masa dini
Siang dan malam kau tak istirahat
Sibuk mengurusKu tiada henti

Kau bagaikan sang surya
Hanya memberi takharap kembali
Aku bagaikan sang dunia
Yang hanya bisa di sinari

Rasa sayangMu begitu besar
Sangat luas laksana lautan di luar
Aku sungguhlah tak berdaya
Bagai di ikat rantai baja

Aku di sekolahkan hingga berguna
Demi membangun dan memajukan bangsa
Takkan Ku biar seorang dapat mengganggu
Takkan Ku biar seorang menyerbu tanah airKu

                                                        Se-Ku-Le-Ri

Seumur jagung hubungan kita
Selama itu juga Ku meminta
Meminta tanya  yang menyiksa
Menyiksa selalu hingga tak kuasa

Ku pahami apa yang kau rasa
Tapi kau malah ingin memaksa
Ku tahu kau masih mencintainya
Tatapanmu menginginkan dirinya

Lepaskan aku jika kau suka
Suka padanya sampai puas
Puas membuatKu berduka
Sobekkan hati dengan buas

Dari pada aku mendua
Lebih baik kita bersua
Lalu hapus kenangan semua
Demi tenang di hari tua








Tidak ada komentar:

Posting Komentar